MAKNA CINTA

“Menurut kamu li, apa sich enaknya pacaran..? Apa pula yang kamu dapat dari berpacaran itu? Apa semua laki-laki itu sama? Ya seperti orang-orang bilang, cowok itu pintar gombal. Nyanjung kita yang manis tapi sering nyakiti perasaan.”

Entah angin apa yang menerpa Mirna hari ini, sehingga membuat dia begitu antusias berdiskusi tentang cinta. Padahal selama ini dia sangat dingin menanggapi hal yang satu ini.
“Lo kok diam aja sich li. Ga dengar ya aku lagi ngomong apa”.
“Kamu nanya sama saya”
“Ya ialah, masa aku nanya sama kursi” muka Mirna cemberut karena pertanyaanya ditanggapi dingin oleh Lili.
“Kamu kok nanya sama aku, emang aku pakar cinta apa. Dokter cinta juga kaga. By The Way tumben hari ini kamu antusias banget nanya itu. Biasanya kamu paling anti ngebahas soal ini”
“Emang kenapa..?!. Ga boleh aku bertanya, salah aku ingin tau”
“Ya aku heran aja, tiba2 kamu tanya seperti ini..”
“Karena dari sekian teman-teman akau hanya kamu yang paling ngertiin aku. Lagian kamu sudah mengalami yang namanya pacaran kan..”

Kalau Mirna bicara seperti ini sudah dipastikan Lili harus memeras otak untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan dilontarkan kepadanya. Karena Mirna akan terus bertanya untuk memuaskan rasa ingin taunya.
“Ya.. gimana ya, menurut aku sih pacaran itu biasa saja. Pacaran merupakan suatu hal yang lumrah dialami oleh insan muda di dunia ini. Dan semua orang akan melewati masa-masa itu”
“Kenapa..” Antusias Mirna.
“Karena pacaran itu adalah awal kita mengenal pasangan kita lebih dalam satu sama lain”
“Trus…”
“Dengan berpacaran kita bisa saling berbagi, mengerti akan kemaun dia, sifat-sifat dia. Hal-hal yang dia sukai. Dan masih banyak lagi, mending kamu jalani ajalah mir, karena pacaran itu buakn matematika yang bisa dijabarkan. Setiap orang pasti punya pendapt berbeda tentang pacaran”
“Yach.. Segitu aja….” Mirna nampaknya kurang puas dengan jawaban yang diberikan Lili.
“Emang kenapa sih mir, kok tumben kamu bertanya seperti ini. Atau jangan-jangan kamu lagi jatuh cinta ya…” senyum mengoda terpancar dari wajah Lili.
“Ga penting…!!” Mirna pergi meninggalkan Lili yang lagi senyum-senyum sendiri.

*****************************************

Perkenalan itu terjadi begitu sinkat, tetapi telah meninggalkan jejak jejak yang lain daripada yang lain dihati Mirna. Ada sutu getaran di lubuk hati yang terdalam yang membuat Mirna gelisah bila mengingat detik-detik itu. Cinta… Ya mungkin itu dia alami saat ini.
Boy cowok bertubuh atletis yang dikenal Mirna di sebuah pusat perbelanjaan di kota ini, begitu menawan dan selalu lekat dalam hayalan Mirna. Tanpa Mirna sadari perkenalan itu menjadi tonggak sejarah baru dalam kisah kehidupannya. Setelah perkenalan itu komunikasi yang mereka jalin semakin intim saja, bahkan kini Boy sudah sering datang kerumah Mirna dengan setangkai mawar merah ditangan yang membuat Mirna semakin mabuk kepayang. Kebersahajaan dan romantisme Boy membuat mirna selalu ingin dekat denganya.
“Mir.. ku ingin engkau tahu bahwa pandangan pertamaku pada dirimu telah menyakinkan aku bahwa kamulah wanita yan selama ini aku cari. Aku ingin sekali mengenalmu lebih jauh. Ijinkan aku untuk hadir dan mengisi hari-harimu dengan kasih sayang yang kumiliki. Mungkin ini terlalu cepat bagimu, tapi itulah perasaanku yang sebenarnya kepadamu. Mau kah kamu menjadi pacar aku Mirna?”
Mirna tidak mampu mengimbangi tatapan mata Boy yang seakan langsung menghujam ke lubuk hatinya yang paling dalam.
Di satu sisi ada keraguan di hati mirna, karena ungkapan yang dilontarkan oleh Boy begitu cepat bagi mirna, di sisi lain dia merasa tersanjung dengan pujian dan keromantisan yang telah Boy buat selama ini. Mirna aku semenjak dia mengenal Boy banyak hari-harinya yang telah berubah. Dia sudah mengenal rindu, penasaran dan gelisah. Rasa dalam hati yang begitu bergejolak, antara rasa ingin memiliki dan rasa takut dalam memulai sebuah hubungan yang selama ini Mirna ingin ketahui rasanya.

**********************************************

Tiga bulan telah berlalu dengan indah, setangkai mawar merah selalu menemani tidur panjang Mirna di malam minggu. Boy adalah laki-laki yang sempurna bagi Mirna. Laki-laki yang penuh pengertian, keromantisan membuat hari-hari yang Mirna lewati serasa begitu sempurna.
“Li… Kamu pasti tidak akan percaya. Minggu depan aku akan dikenalkan oleh Boy kepada orangtuanya” terpancar kebahagian dari wajah Mirna.
“Masa sih mir, kalian kan baru jalan tiga bulan” Lili menanggapi setengah tidak percaya.
“Emang kenapa..?”
“Ya ga apa-apa sich mir, tapi kamu mesti kudu hati hati sama yang namanya cowok. Jangan mudah termakan oleh kata-kata dia yang manis” nasihat yang mungkin tidak akan masuk akal bagi Mirna yang lagi dimabuk asmara.
“Boy itu cowok yang baik, romantis, pengertian. Hari-hari yang aku lewati begitu indah setelah aku kenal Boy li..”
Lili hanya bisa tersenyum melihat sahabatnya ini lagi dimabuk asmara. Mirna begitu berubah setelah mengenal Boy, banyak hal-hal yang tidak terduga yang selama ini belum pernah lakukan terjadi setelah Mirna kenal Boy. Lili hanya bisa berharap kebahagian sahabatnya bisa bertahan selamanya, Lili hanya bisa berharap semoga Boy tidak mengecewakan Mirna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s